Jumat, 18 Mei 2012

Diskusi Publik FORBI, "Indonesia, Negara Preman?"


Pada hari senin kemarin (14/5) diskusi publik dari BSO FORBI kembali hadir. Bertempat di Taman Pancasila FIS UNY, diskusi kali ini mengambil tema “Indonesia, Negara Preman?”. Diskusi tersebut dimoderatori oleh Puji Nuryati dengan dua pembicara yaitu Ratih Latif Pramana dan Firmansyah Nur Iman. Diksusi tersebut dihadiri oleh 25 peserta.

Diskusi dimulai dengan penjelaskan oleh saudara Latif, bagaimana perkembangan premanisme di Indonesia mulai dari Hercules hingga John Kei. perkembangan premanisme tidak hanya soal keamanan, kekerasan dan pemalakan, kemudian bergeser terutama di kota Jakarta (dan kota besar). Preman-preman beralih menjadi “pengaman” suatu peristiwa seperti menjaga lahan kosong hingga penggusuran ataupun menjadi jasa debt collector. Hingga menjadi sebuah mafia saat ini.


Dari penjelasan tersebut, diskusi mulai berkembang, banyak sekali pendapat dari peserta bermunculan. Salah satunya menurut Seno Aji, “premanisme berkembang karena masyarakat memberi keleluasaan, mereka telah menjaga keamaan lingkungan masyarakat menjadi aman dan tidak diganggu pihak luar”. Pendapat lain datang dari Galuh, “premanisme itu merupakan paham,  bukan subyek pelakunya. Mahasiswa rusuh bisa saja dikatakan tindakan premanisme. Premanisme itu identik dengan kekerasan.”.  

 Begitu banyak opini yang dikeluarkan, banyak sekali solusi yang ditawarkan pada permasalahan tersebut. Ada yang berikan saran mereka harus dirangkul atau pemerintah harus membuka lebih banyak lapangan pekerjaan bagi mereka. Namun hal tersebut ditolak oleh suadara Seno, “bukan pemerintah yang tidak menyediakan lapangan pekerjaan, tapi lapangan pekerjaan tidak memberikan peluang kepada mereka (preman). Mereka lebih suka cara instan”.

Solusi lain ditawarkan dari Kiki “kita harus menyetarakan mirror, yaitu persepsi dan sudut pandang agar kita dapat memahami mereka”. Atau saran dari Latif, “agar tak berkembang, kita harus dekati “pemuda labil” biar tidak terjerumus”. Solusi-solusi telah banyak bermunculan, closing statement dikemukan oleh saudara Endah,”kalo dari keseluruhan diskusi, lebih banyak membicarakan preman tingkat “elite” yang berhubungan dengan orang elite juga seperti pengusaha, pemerintah, politikus dan sebagainya sehingga sangat sulit diberantas”. Jika premanisme telah meresahkan dan melanggar ketentuan, hukum harus ditegakkan! Forbi Kritis Solutif. (dani)

0 komentar:

Posting Komentar