Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta

Pengurus HMAP UNY 2019

Kabinet Inisiator

PKKMB ADMINISTRASI PUBLIK 2019

DIES NATALIS FIS

PUBLIC ADMINISTRATION

Bapak Rektor UNY

Minggu, 17 Mei 2015

Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara Raih Juara 1 dalam Kompetisi Nasional Call for Paper of Public Administration 2015

Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta berhasil membawa pulang piala saat mengikuti lomba Call for Paper of Public Administration 2015 tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Airlangga Surabaya. Tim yang terdiri dari seorang mahasiswi dan mahasiwa Ilmu Administrasi Negara yaitu Avi Anasiya (Angkatan 2014) dan M. Robi’I (Angkatan 2012) ini telah membawa nama baik jurusan Administrasi Negara dengan prestasi yang sangat membanggakan. 
Avi dan Robi meraih Juara 1 yang mewakili Universitas Negeri Yogyakarta dan disusul oleh IPDN Jakarta sebagai juara 2, kemudian juara 3 sendiri diraih oleh tuan rumah yang menyelenggarakan kompetisi ini yaitu Universitas Airlangga Surabaya pada hari Senin tanggal 11 Mei 2015. Suatu kebahagiaan bagi keduanya karena bisa memenangkan lomba paper tingkat Nasional ini, apalagi mereka mengerjakan paper dalam waktu yang cukup singkat yaitu hanya dalam 5 hari saja. Apalagi judul yang diusung dalam paper ini cukup unik, yaitu “Hamemayu Hayuning Bawana sebagai Strategi Inovasi Pegembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta untuk Menghadapi ASEAN Economic Community 2015”. 
Robi mengaku sangat senang karena bisa memajukan nama baik jurusan dan juga Universitas Negeri Yogyakarta setelah beberapa kali gagal dalam kompetisi yang pernah diikutinya. “Saya sangat senang karena diberikan kesempatan untuk meraih juara 1, yang pastinya ini bukan hanya untuk Saya dan Avi tetapi kami persembahkan untuk jurusan tercinta dan alamamater kebanggan Universitas Negeri Yogyakarta,” ujarnya saat diwawancara. Robi mempunyai hobi membaca dan menulis, target membacanya dalam satu hari adalah membaca 50halaman setiap buku yang ia baca. Selain itu Robi juga menyukai bidang ilmu yang dikaji dalam jurusan Administrasi Negara seperti kebijakan publik, reformasi birokrasi, dan pembangunan budaya anti korupsi, tak heran jika Robi pernah menjadi salah satu pembicara dalam kegiatan seminar nasional yang pernah diadakan oleh HIMA SIGARA FIS UY. 
Avi pun tidak kalah senangnya dengan Robi, karena ini merupakan pengalamannya yang pertama kali bisa masukbabak grand final. Berbeda dengan Robi yang pernah mengikuti kompetisi sampai babak penyisihan dan presentasi dalam lomba paper, bagi gadis kelahiran Batang, Jawa Tengah ini mengaku sangat senang karena baginya ini adalah pengalaman yang sangat luar biasa. “Ini adalah pengalaman pertama saya dan tentunya saya sangat senang bisa meraih juara 1 setelah gagal dalam kompetesi paper yang sebelumnya saya ikuti bersama Mas Robi juga,” ungkap gadis berparas cantik ini saat ditemui di Ruang Cut Nyak Dien FIS UNY. Avi merupakan mahasiswi aktif yang mengikuti berbagai organisasi dikampus, seperti Pramuka, Himpunan Mahasiswa, Magenta radio, dan juga Asisten Labroratorium jurusan Administrasi Negara. 
Dengan kemenangan yang mereka bawa, diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa IAN yag lain agar dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya sehingga akan muncul generasi selanjutnya yang dapat melanjutkan jejak mereka baik dalam lomba bidang akademik maupun non akademik yang mampu berprestasi dengan kompetensi yang dimiliki setiap mahasiswa.

Training of Trainer Pendidikan Pengawasan Pemilu BAWASLU DIY

Kegiatan Training of Trainer Pendidikan Pengawasan Pemilu yang mengangkat tema “Pengawasan Kita Untuk Masa Depan Bangsa” berlangsung pada hari Jumat (8/5) bertempat di Ruang Kuliah G.02. 109, G.02. 103, dan G.02. 204 Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta. Kegiatan yang menjadi program kerja HIMA SIGARA atau dari divisi PSDM ini menghadirkan pembicara yang diundang secara langsung dari Badan Pengawas Pemilu DIY.Training of Trainer Pendidikan Pengawasan Pemilu ini merupakan salah satu kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa akan pentingnya pengawasan kita terhadap jalannya sebuah pemilu. Kegiatan ini dimulai pukul 08.30 dan diawali dengan sambutan dari Ketua Pelaksana yaitu Ainna Primeri Yosie Tarida yang mengutarakan dua hal penting dari tujuan pelaksanaan kegiatan ini, yang pertama adalah agar mahasiswa lebih berpartisipasi aktif dalam kegiatan pemilu, dan  yang kedua yaitu agar mahasiswa turut berperan serta dalam pengawasan pemilu. “Kita tahu bahwa pemilu merupakan salah satu wadah ataupun cara dimana kita memilih seorang calon pemimpin yang harapannya akan membawa kita pada kemajuan bangsa ini,” ujarnya saat memberikan sambutan di Ruang Kuliah G.02. 109. 
Kegiatan ini berlangsung dengan dua sesi kegiatan, yang pertama adalah sesi penyampaian materi dimana para peserta telah dibagi dalam dua kelompok yaitu kelompok yang bertempat di Ruang Kuliah G.02. 103 dan G.02. 204 dimana masing-masing ruangan terdapat salah satu pembicara dari bawaslu itu sendiri. Kemudian pada sesi kedua para peserta di training mengenai teknis pengawasan pemilu, cara melaporkan pelanggaran dalam pemilu, dan bagaimana menangani kasus pelanggaran pemilu. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan dapat melatih mahasiswa agar turut serta dalam mengawasi jalannya pemilu, dan juga mahasiswa yang telah mengikuti training P3 ini dapat menekan angka kecurangan yang terjadi saat pemilu. 
Kegiatan ini tentunya sangatlah positif, kita sebagai mahasiswa memang harus berperan aktif dalam kegiatan pemilu dan dengan adanya kegiatan training ini dapat menggerakkan mahasiswa untuk lebih meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengawasan pemilu.

Donor Darah AN


Selasa (5/5) bertempat di taman KHD Fakultas Ilmu Sosial, mobil PMI siap siaga untukmelayani mahasiswa yang ingin mendonorkan darahnya. Kegiatan yang diselenggarakan oleh HIMA SIGARA yang lebih tepatnya dari divisi PPM (Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) ini bertujuan untuk mewujudkan kepedulian mahasiswa di bidang kesehatan, sebagai wadah sosialisasi akan pentignya donor darah, dan juga mengingat akan pentingnya darah bagi tubuh manusia. 

Kegiatan yang berlangsung dari pukul 07.30 WIB ini berlangsung lancar dan mendapatkan animo yang baik dari mahasiswa. Satu per satu mahasiswa datang untuk menyumbangkan darahnya, dan PMI siap sedia untuk melayani para pendonor darah. Putri Yuni Astuti selaku Ketua Pelaksana dari kegiatan donor darah ini mengaku senang kegiatan ini dapat terlaksana dan berjalan dengan lancar, “Alhamdulillah kegiatannya berjalan dengan lancar, saya berharap kegiatan ini dapat dilaksanakan secara kontinyu agar terbangun jiwa peduli dan mengerti akan petingnya darah bagi kehidupan kita,” ungkapnya. 

Sesuai dengan tema dari kegiatan ini yaitu “Setetes Darah Untuk Kehidupan” bahwa meskipun hanya sedikit darah yang kita sumbangkan namun akan sangat bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan. Kegiatan ini pun dapat membangun pendidikan karakter bagi mahasiswa karena dengan kepedulian yang ditunjukkan melalui donor darah ini menjadi salah satu hal yang dapat membentuk karakter individu dalam hal kepedulian terhadap sesama.

Rabu, 06 Mei 2015

Ujian Akhir Nasional Dimata Kami

UAN DIMATA KAMI (IAN) 
Masalah pendidikan merupakan masalah yang hangat untuk di bicarakan pada bulan Mei ini. Hal tersebut mengingat pada bulan ini lebih dari 10 juta jiwa adik-adik kita yang berada di SD, SMP, sampai dengan SMA sedang bertarung melawan Ujian Akhir Nasional (UAN). UAN merupakan agenda tahunan pemerintah yang bertujuan untuk mengevaluasi proses pendidikan yang dilakukan siswa selama 3 tahun di sekolahnya.
Ada hal yang baru dari pelaksanaan UAN pada tahun ini. UAN tidak lagi dijadikan sebagai syarat mutlak kelulusan siswa, namun hasil UAN tetap digunakan sebagai ucan masuk ke perguruan tinggi. Tujuan dari dihapuskannya UAN sebagai syarat kelulusan siswa ini merupakan tindak lanjut pemerintah terhadap protes-protes terhadap pelaksanaan UAN yang selama ini dirasa sangat mendeskriminasi pendidikan siswa. Proses belajar siswa yang dilakkan selama 3 tahun hanya ditentukan nasibnya selama 4 hari masa UAN. Hal tersebut tentulah dirasa sangat tidak adil bagi siswa, guru, maupun orang tua murid. Menjawab masukan-masukan dari masyarakat-masyarakat yang peduli tentang pendidikan, peduli tentang nasib anak bangsa itulah kemudian pemerintah memutuskan mengambil kebijakan dihapuskannya UAN sebagai syarat kelulusan dan UAN hanya dijadikan sebagai bahan pertimbangan masuk ke perguruan tinggi. Namun apakah permsalahan berhenti hanay sampai disitu ? tentu tidak. Suatu kebijakan yang di ambil oleh pemerintah selalu menimbulkan pro dan kontra. Pro dan kontra merupakan suatu hal yang wajar yang biasa terjadi. Dihapuskannya UAN sebagai syarat kelulusan dan ganti menjadi bahan acuan masuk perguruan tinggi, tidak lantas merubah interprestasi siswa tentang kengerian UAN. UAN masih saja menjadi momok untuk sebagian besar siswa. Hal tersebut terbukti dengan fenomena siswa yang pingsan saat mengerjakan UAN, kebocoran kunci jawaban yang sampai di aploud melalui media social, joki jawaban, dan masih banyak lagi. Fenomena tersbut menggambarkan bahwa meskipun UAN sudah tidak menjadi syarat kelulusan, namun UAN masih saja menjadi momok bagi dunia pelajar.
Abri (18th) berbagai cerita mengenai pengalamannya selama melakukan UAN 1 tahun yang lalu. Dia mengatakan, bahwa sebenarnya UAN tidak hanya menjadi momok untuk pelajar saja, namun juga dikalangan guru-guru. Mengapa hal tersebut bisa terjadi ? Jika siswa berhasil mngerjakan soal-soal UAN berarti guru tersebut juga berhasil mendidik siswanya dengan baik. Namun jika siswanya gagal dalam menjalankan UAN maka secara otomatis, guru yang mengajar siswa tersebut juga akan mendapat sorotan. Hal tersebut yang kemudian mendorong tidak sedikit guru untuk membantu muridnya melakukan kecurangan dalam mengerjakan soal-soal UAN. Sungguh ironi. Tak heran jika selain digunakan sebagai evaluasi, keberhasilan UAN sekaligus dijadikan prestise sebuah instansi pendidikan. Setiap sekolah akan merasa bangga dan mengaharapkan setiap tahun bisa memasanga spanduk bertulisakan “Alhamdulillah lulus 100%”. Bukan hal yang salah. Namun dimana makna UAN selanjutnya jika ia tujuanna awalnya yang digunakan sebagai bahan evaluasi dan motivasi siswa agaragiat belajar digantikan oelh semngat kecurangan demi memeperoleh prestise.
Bagi salah seorang mahasiswa, Ihsan (19th) UAN hanya di ibaratkan sebagai agenda tahunan pemerintah. UAN djadikan tender politik. Dimana seluruh nasib siswa ditentukan oleh pemagku-pemangku kepentingan. Jika UAN tidak dilakukan maka secara otomatis pemerintah tidak akan mendapat pengurangan dana di bidang pendidikan. Namun apakah benarkah seperti itu ? Ada yang menganggap ketika daerah pedesaaan dan terpelosok melakukan UAN dengan grade yang sama dengan tingkat dikota adalah suatu hal yang tidak adil. Karena sumber daya yang tersedia didesa, pengetahuan masyarakat desa, dan keseharian masyarakat desa tentu saja tidak sebnading dengan masyarakat yangada di kota. Ketika masyakat di desan menggunakan kapur tulis, masyarakat di kota menggunakan power point. Mengapa tidak dikembalikan saja UAN ke daerah-daerah. Bukannya Indonesia menganut asas desentralisasi ? Di balik setiap keputusan pemerintah tentu telah memperhtitungkan aspek-aspek yang lain. Ketika UAN dikembalikan ke daerah-daerah masing-masing, maka yang ada selamanya masyarakat di desa tidak akan pernah bisa maju. Mereka akan tetap merasa nyaman di zona mana mereka. Pro kontra pelaksanaan UAN memang akan terus dipertanyakan. Urgensi pelaksanaan UAN. Menurut penulis pribadi, sebaiknya UAN memang harus tetap dilaksanakan. Mengapa demikian ? karena dengan UAN para siswa akan mempunyai motivasi untuk lulus, untuk masuk perguruan tinggi. Jika UAN dihapuskan yang ada siswa akan merasa nyantai karena yang menentukan nasib mereka adalah guru mereka. Tidak mungkin seorang guru tidak meluluskan muridnya, begitulah anggapan para siswa nantinya jika UAN di hapuskan. Meskipun demikian, pelaksanaan UAN yang selalu menemui berbagai permsalahan sebagiknya menjadi bahan evaluasi juga buat pemerintah. UAN bukan hanya evaluasi siswa namun juga pemerintah. Pemerintah harus bisa membangun system pendidikan yang bisa dipeertanggung jawabkan. Jangan hanya mengagendakan keuangan UAN, namun juga pelaksanaan dan system UAN sendiri, agar pelaksanaan UAN nantinya bisa benar-benar evektif untuk mengevaluasi siswa. Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani ! merdeka !

*Tulisan ini merupakan Hasil Diskusi Publik FORBI Himasigara 2015 #3

Tema : Meneropong Pendidikan Indonesia
Pematik : Rahadi Cipto utama, s.sos.
Tgl : Rabu, 29 April 2015
Tempat : Angkringan Depan Rektorat






Jumat, 01 Mei 2015

PENGURUS HIMASIGARA KEMBALI LAKSANAKAN SUSI



Foto bersama HIMASIGARA 2015 dengan pengurus HMJ Publik UNDIP
Sabtu (25/4) pengurus Himpunan Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara (HIMA IAN) Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta (FIS UNY) kembali melaksanakan SUSI ke kota Semarang. Study Sigara (SUSI) merupakan sebuah agenda yang diselenggarakan oleh HIMA Ilmu Administrasi Negara Universitas Negeri Yogyakarta. Kegiatan tersebut bertujuan untuk menjalin hubungan eksternal dengan HIMA dari Universitas Diponegoro Semarang, guna bertukar ilmu tentang HIMA dan kegiatan kemahasiswaan. Sebelumnya, pengurus Himpunan Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara berkunjung ke Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), dan selanjutnya kembali laksanakan kegiatan SUSI di Universitas Diponegoro (UNDIP).  Kegiatan ini berlangsung dengan jumlah peserta 43, diantaranya 37 pengurus HIMA IAN dan 5 mahasiswa aktif jurusan Ilmu Administrasi Negara.
                Sabtu pagi sekitar jam 09.00 WIB rombongan berangkat dari rektorat UNY mengendarai sebuah bus menuju Kota Semarang. Perjalanan ke Semarang memakan waktu sekitar 3 jam. Setibanya disana, rombongan disambut baik oleh pihak Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Administrasi Publik (HMJ Publik) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UNDIP. Acara berlangsung sampai senja di auditorium Gedung A FISIP UNDIP, dimulai dari pembukaan dan sambutan dari ketua HMJ AP Cuher  Santoso dilanjutkan oleh ketua Himasigara Ahmad Humaidi, presiden BEM FISIP UNDIP Misbachul Munir dan Ketua Jurusan Administrasi Publik UNDIP bapak Aufarol Marom. “selamat datang mahasiswa dari UNY di Kampus FISIP UNDIP, semoga  kegiatan ini sangat bermanfaat  khususnya pengurus himpunan mahasiswa jurusan Ilmu Administrasi Negara dalam menjalin jaringan” tegas bapak Marom.
                Acara berikutnya adalah pemaparan divisi-divisi dan kepengurusan serta program kerja pengurus himasigara kemudian dilanjutkan pemaparan bidang-bidang serta program kerja dari HMJ AP. Disinilah mahasiswa dari dua Universitas bertukar informasi dan saling memahami tentang organisasi yang dijalankan. Setelah jeda ISHOMA, acara dilanjutkan diskusi oleh masing-masing divisi. Nah, disnilah saling bertukar informasi, ide, dan saling mengenal. Acra yang dterakhir adalah penutup berupa pemberian plakat yang diwakilkan oleh Abri Kurniadi selaku ketua pelaksana SUSI dan penerimaan oleh-oleh dari HMJ AP yang diwakilkan oleh Esti sebagai wakil bidang eksternal. Sebelum berpamitan, kunjungan himasigara berfoto bersama HMJ AP di depan Gedung FISIP UNDIP.
Ketua pelaksana Abri Kurniadi menegaskan bahwa, “ kegiatan ini bertujuan untuk menjalin hubungan eksternal dengan HIMA dari Universitas Diponegoro, guna bertukar ilmu tentang HIMA dan kegiatan kemahasiswaan. Dan berharap dapat memberikan manfaat lebih seperti, mengembangkan keahlian, dan keilmuan Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara melalui praktik kunjungan HIMA serta menumbuhkan tali persaudaraan antar HIMA”. SUSI ini diharapkan mampu menjalin hubungan silaturahmi dan dapat memberikan manfaat lebih bagi kedua belah pihak. (Lay)

Unordered List



Support