Rabu, 06 Mei 2015

Ujian Akhir Nasional Dimata Kami

UAN DIMATA KAMI (IAN) 
Masalah pendidikan merupakan masalah yang hangat untuk di bicarakan pada bulan Mei ini. Hal tersebut mengingat pada bulan ini lebih dari 10 juta jiwa adik-adik kita yang berada di SD, SMP, sampai dengan SMA sedang bertarung melawan Ujian Akhir Nasional (UAN). UAN merupakan agenda tahunan pemerintah yang bertujuan untuk mengevaluasi proses pendidikan yang dilakukan siswa selama 3 tahun di sekolahnya.
Ada hal yang baru dari pelaksanaan UAN pada tahun ini. UAN tidak lagi dijadikan sebagai syarat mutlak kelulusan siswa, namun hasil UAN tetap digunakan sebagai ucan masuk ke perguruan tinggi. Tujuan dari dihapuskannya UAN sebagai syarat kelulusan siswa ini merupakan tindak lanjut pemerintah terhadap protes-protes terhadap pelaksanaan UAN yang selama ini dirasa sangat mendeskriminasi pendidikan siswa. Proses belajar siswa yang dilakkan selama 3 tahun hanya ditentukan nasibnya selama 4 hari masa UAN. Hal tersebut tentulah dirasa sangat tidak adil bagi siswa, guru, maupun orang tua murid. Menjawab masukan-masukan dari masyarakat-masyarakat yang peduli tentang pendidikan, peduli tentang nasib anak bangsa itulah kemudian pemerintah memutuskan mengambil kebijakan dihapuskannya UAN sebagai syarat kelulusan dan UAN hanya dijadikan sebagai bahan pertimbangan masuk ke perguruan tinggi. Namun apakah permsalahan berhenti hanay sampai disitu ? tentu tidak. Suatu kebijakan yang di ambil oleh pemerintah selalu menimbulkan pro dan kontra. Pro dan kontra merupakan suatu hal yang wajar yang biasa terjadi. Dihapuskannya UAN sebagai syarat kelulusan dan ganti menjadi bahan acuan masuk perguruan tinggi, tidak lantas merubah interprestasi siswa tentang kengerian UAN. UAN masih saja menjadi momok untuk sebagian besar siswa. Hal tersebut terbukti dengan fenomena siswa yang pingsan saat mengerjakan UAN, kebocoran kunci jawaban yang sampai di aploud melalui media social, joki jawaban, dan masih banyak lagi. Fenomena tersbut menggambarkan bahwa meskipun UAN sudah tidak menjadi syarat kelulusan, namun UAN masih saja menjadi momok bagi dunia pelajar.
Abri (18th) berbagai cerita mengenai pengalamannya selama melakukan UAN 1 tahun yang lalu. Dia mengatakan, bahwa sebenarnya UAN tidak hanya menjadi momok untuk pelajar saja, namun juga dikalangan guru-guru. Mengapa hal tersebut bisa terjadi ? Jika siswa berhasil mngerjakan soal-soal UAN berarti guru tersebut juga berhasil mendidik siswanya dengan baik. Namun jika siswanya gagal dalam menjalankan UAN maka secara otomatis, guru yang mengajar siswa tersebut juga akan mendapat sorotan. Hal tersebut yang kemudian mendorong tidak sedikit guru untuk membantu muridnya melakukan kecurangan dalam mengerjakan soal-soal UAN. Sungguh ironi. Tak heran jika selain digunakan sebagai evaluasi, keberhasilan UAN sekaligus dijadikan prestise sebuah instansi pendidikan. Setiap sekolah akan merasa bangga dan mengaharapkan setiap tahun bisa memasanga spanduk bertulisakan “Alhamdulillah lulus 100%”. Bukan hal yang salah. Namun dimana makna UAN selanjutnya jika ia tujuanna awalnya yang digunakan sebagai bahan evaluasi dan motivasi siswa agaragiat belajar digantikan oelh semngat kecurangan demi memeperoleh prestise.
Bagi salah seorang mahasiswa, Ihsan (19th) UAN hanya di ibaratkan sebagai agenda tahunan pemerintah. UAN djadikan tender politik. Dimana seluruh nasib siswa ditentukan oleh pemagku-pemangku kepentingan. Jika UAN tidak dilakukan maka secara otomatis pemerintah tidak akan mendapat pengurangan dana di bidang pendidikan. Namun apakah benarkah seperti itu ? Ada yang menganggap ketika daerah pedesaaan dan terpelosok melakukan UAN dengan grade yang sama dengan tingkat dikota adalah suatu hal yang tidak adil. Karena sumber daya yang tersedia didesa, pengetahuan masyarakat desa, dan keseharian masyarakat desa tentu saja tidak sebnading dengan masyarakat yangada di kota. Ketika masyakat di desan menggunakan kapur tulis, masyarakat di kota menggunakan power point. Mengapa tidak dikembalikan saja UAN ke daerah-daerah. Bukannya Indonesia menganut asas desentralisasi ? Di balik setiap keputusan pemerintah tentu telah memperhtitungkan aspek-aspek yang lain. Ketika UAN dikembalikan ke daerah-daerah masing-masing, maka yang ada selamanya masyarakat di desa tidak akan pernah bisa maju. Mereka akan tetap merasa nyaman di zona mana mereka. Pro kontra pelaksanaan UAN memang akan terus dipertanyakan. Urgensi pelaksanaan UAN. Menurut penulis pribadi, sebaiknya UAN memang harus tetap dilaksanakan. Mengapa demikian ? karena dengan UAN para siswa akan mempunyai motivasi untuk lulus, untuk masuk perguruan tinggi. Jika UAN dihapuskan yang ada siswa akan merasa nyantai karena yang menentukan nasib mereka adalah guru mereka. Tidak mungkin seorang guru tidak meluluskan muridnya, begitulah anggapan para siswa nantinya jika UAN di hapuskan. Meskipun demikian, pelaksanaan UAN yang selalu menemui berbagai permsalahan sebagiknya menjadi bahan evaluasi juga buat pemerintah. UAN bukan hanya evaluasi siswa namun juga pemerintah. Pemerintah harus bisa membangun system pendidikan yang bisa dipeertanggung jawabkan. Jangan hanya mengagendakan keuangan UAN, namun juga pelaksanaan dan system UAN sendiri, agar pelaksanaan UAN nantinya bisa benar-benar evektif untuk mengevaluasi siswa. Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani ! merdeka !

*Tulisan ini merupakan Hasil Diskusi Publik FORBI Himasigara 2015 #3

Tema : Meneropong Pendidikan Indonesia
Pematik : Rahadi Cipto utama, s.sos.
Tgl : Rabu, 29 April 2015
Tempat : Angkringan Depan Rektorat






0 komentar:

Posting Komentar