Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta

Pengurus HMAP UNY 2019

Kabinet Inisiator

PKKMB ADMINISTRASI PUBLIK 2019

DIES NATALIS FIS

PUBLIC ADMINISTRATION

Bapak Rektor UNY

Sabtu, 17 Oktober 2015

Seminar Nasional 2015

HIMA Ilmu Administrasi Negara mengadakan acara seminar nasional pada Kamis (15/10) di Ruang Sidang Umum Universitas Negeri Yogyakarta. Seminar nasional yang diadakan setiap tahun ini mendapat animo yang baik dari para peserta yang notabennya adalah mahasiswa, hal ini dapat dilihat dari jumlah peserta yang mengahadiri seminar nasional ini cukup banyak yaitu terdapat 174 peserta. Pada tahun ini, seminar nasional HIMA Ilmu Administrasi Negara menghadirkan 4 narasumber diantaranya Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah), Aria Bima (Wakil Komisi VI DPR RI), Dosen Ilmu Administrasi Negara Lena Satlita, M.Si, dan mahasiswa Ilmu Administrasi Negara Ikhsanudin Muchlis. Salah satu hal unik yang terdapat dalam seminar ini adalah selalu menghadirkan mahasiswa untuk menjadi pembicara, hal ini diharapkan dapat menciptakan mahasiswa yang kritis dan solutif serta dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa yang lain.


Tema yang diusung dalam seminar nasional ini adalah “Mengawal Pencapaian Nawa Cita dan Revolusi Mental Menuju Visi Indonesia Sejahtera”. Seperti yang kita ketahui bahwa Nawa Cita merupakan 9 agenda prioritas Jokowi-JK  adapun isi dari Nawa Cita tersebut sebagai berikut :
1. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara. Melalui pelaksanaan politik luar negeri bebas-aktif.
2. Membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya.
3. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.
4. Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya.
5. Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui program Indonesia Pintar dengan wajib belajar 12 tahun bebas pungutan. Dan program Indonesia Sehat untuk peningkatan layanan kesehatan masyarakat. Serta Indonesia Kerja dan Indonesia Sejahtera dengan mendorong program kepemilikan tanah seluas sembilan juta hektar.
6. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional.
7. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi dan domestik.
8. Melakukan revolusi karakter bangsa melalui penataan kembali kurikulum pendidikan nasional.
9. Memperteguh Ke-Bhineka-an dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui penguatan kebhinekaan dan menciptakan ruang dialog antar warga.

             Seminar ini dilaksanakan dalam dua panel, yaitu panel pertama yang dibersamai oleh Aria Bima dan Dosen Ilmu Administrasi Negara yaitu Lena Satlita, M. Si dan dimoderatori oleh salah satu mahasiswa Ilmu Administrasi Negara Dhimas Deworo. Aria Bima memaparkan materinya tentang jalan perubahan Jokowi-JK untuk Indonesia sejahtera. “Sesuai dengan amanat yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945, ada beberapa hal yang menjadi pokok jalan perubahan bagi Jokowi-JK untuk bangsa ini, yaitu menghadirkan negara yang bekerja (rasa aman dan melindungi, pemberantasan korupsi dan penegakan hukum, pelayanan publik), kemandirian yang mensejahterakan (daulat pangan berbasis agribisnis kerakyatan, daulat energi berbasis kepentingan nasional, restorasi ekonomi maritim Indonesia), dan yang terakhir adalah revolusi mental (emansipasi, kemandirian, dan kebhinekaan),” ungkap Aria Bima dengan tegas. Sementara itu dosen Ilmu Administrasi Negara yaitu Lena Satlita, M.Si sendiri menjelaskan tentang Indonesia yang mandiri di bidang ekonomi, berdaulat di bidang politik, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya, namun saat ini sangat sedikit manusia yang memiliki kepribadian yang unggul dalam budaya. Persatuan antar daerah semakin melemah dan seakan mencirikan bangsa Indonesia ini memiliki mental yang benar-benar perlu direvolusi. Konflik antar golongan semakin menjadi pemicu Indonesia yang tidak bersahabat antar suku dan budaya.

            Kemudian dilanjutkan dengan panel dua yang dibersamai oleh Ganjar Pranowo dan Ikhsanudin Muchlis dengan moderator yang juga dari mahasiswa Ilmu Administrasi Negara yaitu Yofa Nisa. Ganjar Pranowo memaparkan materi mengenai nawa cita dan revolusi mental. Menurut Ganjar, revolusi mental harus menjadi landasan dan pondasi dalam pembangunan karakter bangsa ini. “Revolusi mental itu adalah berani jujur. Jujur mengatakan yang benar dan melakukannya dengan benar pula,” paparnya kemudian. Ganjar Pranowo sendiri tampil menggunakan pakaian daerah yang menandakan ciri khas dari daerahnya yaitu Jawa Tengah dan menyapa peserta dengan ramah dan disambut dengan antusiasme peserta yang luar biasa. Kemudian dilanjutkan oleh Ikhsanudin Muchlis yang memaparkan materinya dengan membahas salah satu poin yang terdapat dalam Nawa Cita itu sendiri yaitu mengenai “Pemimpin Transformasional di Era Revolusi Mental Menuju Visi Indonesia Sejahtera”. Salah satu pembahasan yang cukup menarik bahwasannya tujuh kali pergantian presiden dengan masing-masing gaya kepemimpinan yang berbeda berusaha membuat bangsa ini benar-benar merdeka. Namun sayangnya sampai saat ini, cita-cita Indonesia untuk mensejahterakan seluruh rakyatnya tidak kunjung tercapai. “Masalah kemiskinan merupakan masalah sosial yang senantiasa relevan untuk dikaji terus menerus. Ini bukan saja karena masalah kemiskinan telah ada sejak lama dan masih hadir ditengah-tengah kita saat ini, melainkan pula karena kini gejalanya semakin meningkat sejalan dengan krisis multidimensional yang masih dihadapi oleh bangsa Indonesia,” paparnya. Seminar nasional ini diharapkan dapat menjadi ruang diskusi bagi mahasiswa dan dapat memberikan manfaat serta pemahaman kepada seluruh mahasiswa mengenai nawa cita itu sendiri, sehingga mahasiswa dapat bergerak aktif dan mampu menjadi mahasiswa yang berperan dalam membangun bangsa indonesia yang tidak hanya dapat mengkritisi namun juga mampu memberikan solusi yang bermanfaat bagi negeri ini.(Yeni)

Sigara Cup 2015

Sabtu 10 September 2015 Divisi Minat dan Bakat (MIBA) menjalankan Proker teranyarnya. Kali ini Miba membuat acara  Sigara Cup 2015 untuk pertama kalinya se-FIS dan FE. Kompetisi  yang biasanya hanya untuk Jurusan Ilmu Administrasi Negara, kali ini Sigara Cup 2015 muncul untuk digelar seluruh FIS dan FE.
Sigara Cup 2015 merupakan sebuah kompetisi Futsal yang di tunggu-tunggu para mahasiswa. Proker MIBA terbaru ini juga sangat diapresiasi oleh seluruh jurusan di FIS dan FE. Sigara Cup 2015 sebagai ajang bergensi antar Jurusan se-FIS dan FE, tentunya adanya rasa semangat untuk menjadi Raja se-FIS dan FE. Sigara Cup 2015 menjad sebuah pembuktian Jurusan mana yang terhebat dalam urusan olahraga.Selain sebagai pembuktian, tujuan Sigara Cup 2015 juga untuk Menjalin hubungan baik dan menjalin persaudaraan antar Jurusan Se-FIS dan FE. Sigara Cup 2015 juga memberitahukan pada UNY dan bahwa FIS juga mempunyai bakat yang tak kalah dengan FIK UNY yang merupakan fakultas terkenal di Indonesia.

Acara yang digelar di lapangan Sccore Jakal km 9 ini sangat menarik minat para penonton. Permainan penuh skill, permainan cerdik, permainan strategi, dan pemainan yang penuh dramatis di tampilkan oleh team-team. Hal tersebut memberikan warna, memberikan hiburan kepada penonton dan suporter. Dalam kompetisi kali ini Juara 1 di raih oleh Ilmu Sejarah, Juara 2 di raih oleh pendidikan Sejarah, dan Juara 3 oleh Ilmu Administrasi Negara 2015.(Agung)


Kamis, 01 Oktober 2015

“Melemahnya Nilai Rupiah dan Perekonomian Indonesia”

            Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar merupakan berita yang beberapa hari ini sedang hangat menghiasi opini publik dewasa ini. Jumat, 18 Sept 2015 nilai tukar rupiah mencapai angka Rp. 14.459 . Menurunnya nilai tukar terhadap dolar ini sebenarnya bukan hanya melanda Indonesia saja, banyak negara yang juga mengalami fenomena serupa, terutama negara-negara berkembang. Sebenarnya faktor apa yang menyebabkan terjadinya penurunan nilai rupiah dalam beberapa waktu ini. Pada dasarnya ada dua faktor yang menyebabkan turunnya nilai tukar rupiah, dilihat dari faktor internal maupun faktir eksternal. Dari kaca ekternal dikarenakan adanya kebijakan The Fed (bank sentral Amerika Serikat) dalam rangka mengurangi Quantitative Easing (QE). Rencana ini akan terus berlangsung sepanjang tahun fiskal 2014 dalam rangka menjalankan program ekonomi Obama dan penyelamatan ekonomi AS. Arti dari QE ini adalah program Bank sentral AS adalah kecenderungan akan terus mencetak uang dolar AS dalam rangka membeli obligasi atau aset-aset keuangan lainnya dari bank dan lembaga keuangan di AS. Program ini bertujuan menyuntikkan uang ke intermediaries financial (Bank) di AS dalam rangka pemulihan ekonomi AS yang terpapar krisis setidaknya sejak 5 (lima) tahun silam. Sedangkan factor internal yang menyebabkan tingginya penawaran dan rendahnya permintaan atas Rupiah, adalah neraca perdagangan Indonesia yang defisit, ekspor lebih kecil daripada impor. Defisit neraca perdagangan Indonesia selama 2014 diperkirakan penulis akan tetap besar pada sektor non migas, sedangkan sektor migas dan komoditas unggulan seperti CPO misalnya tetap memberikan nilai surplus.Mengapa terjadi demikian ?, karena pengusaha kita telah membuat kontrak yang besar di tahun 2014 ini terhadap impor raw material (khususnya terhadap China) yang akan digunakan guna kebutuhan di dalam negeri. Akar masalah inilah yang menjadikan Rupiah lemah, karena highly dependent on import, seharusnya merubah kultur menjadi bangsa unggul, bangsa swasembada di segala bidang. Yang menjadi inti dari diskusi kali ini adalah “jika dollar naik lantas mengapa”. Apa yang dipermasalahkan jika Dollar naik, apa yang berubah dari kehidupan perekonomian Indonesia. Jika dilihat secara kasat mata tidak ada yang berubah, barang-barang branded masih diminati masyarakat. Iphone juga masih menjadi incaran. Lantas mengapa kalau dollar naik dan rupiah menurun ? Efek dari penurunan nilai tukar rupiah terhadap dollar sebenarnya tidak akan dirasakan oleh masyarakat yang benar-benar kaya dan yang benar-benar miskin. Mengapa? Karena masyarakat dengan ekonomi diatas tidak akan memperdulikan berapa rupiah yang mereka keluarkan, mereka hanya memikirkan kecukupan mereka tidak peduli berapa rupiah yang harus dikeluarkan. Sedangkan orang-orang dengan ekonomi dibawah tidak akan pernah peduli dengan dolar, karena bagi mereka sudah bisa makan saja sudah cukup. Naiknya Dollar terhadap rupiah tentunnya akan mempengaruhi proses produksi di Indonesia. Seperti yang kita telah tau bahwa meskipun Indonesia kaya akan sumber daya alamnya, namun ada beberapa bahan produksi yang harus di import dari luar negeri. Dan harus menggunakan kurs dollar. Jika dollar naik maka Indonesia pun akan mengalami penurunan produksi. Efek domino jika produksi menurun adalah, penurunan tingkat konsumsi masyarakat, PHK, dan ujung-ujungnya adalah pengangguran. Itulah intinya. So .. apa yang bisa kita lakukan atau usahakan ? dengan Memperbaiki defisit transaksi berjalan dan nilai tukar rupiah terhadap dollar dengan mendorong ekspor dan keringanan pajak kepada industri tertentu, Menjaga daya beli. Pemerintah berkoodinasi dengan BI untuk menjaga gejolak harga dan inflasi, Mempercepat investasi, mungkin itu rekomendasi yang bisa kami berikan kepada pemerintah selaku pemangku kebijakan utama. Dan bagi masyarakat Indonesia pada umumnya adalah, “tetap cintai produk dalam negeri“ dengan mencintai produk dalam negeri kita akan meringankan beban ketergantungan kita terhadap dollar. Biarkan dollar yang ketergantungan dengan rupiah. Merdeka !! #forbi #himasigara #diskusi #dollar #rupiah Diskusi publik #5 HIMA SIGARA Jumat, 18 Sept 2015 yang dibersamai oleh Ahmad Humaidi.(Adhi)

Unordered List



Support