Sabtu, 17 Oktober 2015

Seminar Nasional 2015

HIMA Ilmu Administrasi Negara mengadakan acara seminar nasional pada Kamis (15/10) di Ruang Sidang Umum Universitas Negeri Yogyakarta. Seminar nasional yang diadakan setiap tahun ini mendapat animo yang baik dari para peserta yang notabennya adalah mahasiswa, hal ini dapat dilihat dari jumlah peserta yang mengahadiri seminar nasional ini cukup banyak yaitu terdapat 174 peserta. Pada tahun ini, seminar nasional HIMA Ilmu Administrasi Negara menghadirkan 4 narasumber diantaranya Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah), Aria Bima (Wakil Komisi VI DPR RI), Dosen Ilmu Administrasi Negara Lena Satlita, M.Si, dan mahasiswa Ilmu Administrasi Negara Ikhsanudin Muchlis. Salah satu hal unik yang terdapat dalam seminar ini adalah selalu menghadirkan mahasiswa untuk menjadi pembicara, hal ini diharapkan dapat menciptakan mahasiswa yang kritis dan solutif serta dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa yang lain.


Tema yang diusung dalam seminar nasional ini adalah “Mengawal Pencapaian Nawa Cita dan Revolusi Mental Menuju Visi Indonesia Sejahtera”. Seperti yang kita ketahui bahwa Nawa Cita merupakan 9 agenda prioritas Jokowi-JK  adapun isi dari Nawa Cita tersebut sebagai berikut :
1. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara. Melalui pelaksanaan politik luar negeri bebas-aktif.
2. Membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya.
3. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.
4. Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya.
5. Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui program Indonesia Pintar dengan wajib belajar 12 tahun bebas pungutan. Dan program Indonesia Sehat untuk peningkatan layanan kesehatan masyarakat. Serta Indonesia Kerja dan Indonesia Sejahtera dengan mendorong program kepemilikan tanah seluas sembilan juta hektar.
6. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional.
7. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi dan domestik.
8. Melakukan revolusi karakter bangsa melalui penataan kembali kurikulum pendidikan nasional.
9. Memperteguh Ke-Bhineka-an dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui penguatan kebhinekaan dan menciptakan ruang dialog antar warga.

             Seminar ini dilaksanakan dalam dua panel, yaitu panel pertama yang dibersamai oleh Aria Bima dan Dosen Ilmu Administrasi Negara yaitu Lena Satlita, M. Si dan dimoderatori oleh salah satu mahasiswa Ilmu Administrasi Negara Dhimas Deworo. Aria Bima memaparkan materinya tentang jalan perubahan Jokowi-JK untuk Indonesia sejahtera. “Sesuai dengan amanat yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945, ada beberapa hal yang menjadi pokok jalan perubahan bagi Jokowi-JK untuk bangsa ini, yaitu menghadirkan negara yang bekerja (rasa aman dan melindungi, pemberantasan korupsi dan penegakan hukum, pelayanan publik), kemandirian yang mensejahterakan (daulat pangan berbasis agribisnis kerakyatan, daulat energi berbasis kepentingan nasional, restorasi ekonomi maritim Indonesia), dan yang terakhir adalah revolusi mental (emansipasi, kemandirian, dan kebhinekaan),” ungkap Aria Bima dengan tegas. Sementara itu dosen Ilmu Administrasi Negara yaitu Lena Satlita, M.Si sendiri menjelaskan tentang Indonesia yang mandiri di bidang ekonomi, berdaulat di bidang politik, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya, namun saat ini sangat sedikit manusia yang memiliki kepribadian yang unggul dalam budaya. Persatuan antar daerah semakin melemah dan seakan mencirikan bangsa Indonesia ini memiliki mental yang benar-benar perlu direvolusi. Konflik antar golongan semakin menjadi pemicu Indonesia yang tidak bersahabat antar suku dan budaya.

            Kemudian dilanjutkan dengan panel dua yang dibersamai oleh Ganjar Pranowo dan Ikhsanudin Muchlis dengan moderator yang juga dari mahasiswa Ilmu Administrasi Negara yaitu Yofa Nisa. Ganjar Pranowo memaparkan materi mengenai nawa cita dan revolusi mental. Menurut Ganjar, revolusi mental harus menjadi landasan dan pondasi dalam pembangunan karakter bangsa ini. “Revolusi mental itu adalah berani jujur. Jujur mengatakan yang benar dan melakukannya dengan benar pula,” paparnya kemudian. Ganjar Pranowo sendiri tampil menggunakan pakaian daerah yang menandakan ciri khas dari daerahnya yaitu Jawa Tengah dan menyapa peserta dengan ramah dan disambut dengan antusiasme peserta yang luar biasa. Kemudian dilanjutkan oleh Ikhsanudin Muchlis yang memaparkan materinya dengan membahas salah satu poin yang terdapat dalam Nawa Cita itu sendiri yaitu mengenai “Pemimpin Transformasional di Era Revolusi Mental Menuju Visi Indonesia Sejahtera”. Salah satu pembahasan yang cukup menarik bahwasannya tujuh kali pergantian presiden dengan masing-masing gaya kepemimpinan yang berbeda berusaha membuat bangsa ini benar-benar merdeka. Namun sayangnya sampai saat ini, cita-cita Indonesia untuk mensejahterakan seluruh rakyatnya tidak kunjung tercapai. “Masalah kemiskinan merupakan masalah sosial yang senantiasa relevan untuk dikaji terus menerus. Ini bukan saja karena masalah kemiskinan telah ada sejak lama dan masih hadir ditengah-tengah kita saat ini, melainkan pula karena kini gejalanya semakin meningkat sejalan dengan krisis multidimensional yang masih dihadapi oleh bangsa Indonesia,” paparnya. Seminar nasional ini diharapkan dapat menjadi ruang diskusi bagi mahasiswa dan dapat memberikan manfaat serta pemahaman kepada seluruh mahasiswa mengenai nawa cita itu sendiri, sehingga mahasiswa dapat bergerak aktif dan mampu menjadi mahasiswa yang berperan dalam membangun bangsa indonesia yang tidak hanya dapat mengkritisi namun juga mampu memberikan solusi yang bermanfaat bagi negeri ini.(Yeni)

0 komentar:

Posting Komentar