Sabtu, 27 Februari 2016

Diskusi Publik: Pro dan Kontra LGBT


       Pada hari Kamis, 25 Februari 2016 Himpunan Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara UNY kembali menggelar diskusi. Diskusi yang notabennya rutin diselenggarakan secara periodik tersebut, pada kali ini mengangkat isu tentang LGBT yang sedang hangat di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Diskusi ini dimulai pada pukul 15.37 WIB yang dipantik oleh Bapak Pandu selaku dosen jurusan Ilmu Administrasi Negara UNY dan bertempat di Laboratorium Jurusan Ilmu Administrasi Negara.
    LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) merupakan polemik yang tentu saja menimbulkan pro dan kontra akan eksistensinya. Di satu sisi, masyarakat memberi label yang negatif akan kelompok LGBT yang notabennya memiliki orientasi seksual yang berbeda. Karena bagaimanapun juga apabila kita kembali pada rasionalitas akan eksitensi dari LGBT tersebut nampak jelas bahwa baik secara sudut pandang sosiologi, biologis, dan agamis tentu jauh dari kata rasional. Namun, di sisi lain apabila fenomena LGBT itu sendiri dilihat dari sudut pandang hak asasi manusia, tentu saja masyarakat tidak boleh begitu saja memberikan perlakuan yang berbeda dan diskriminasi karena hal tersebut mutlak menjadi hak dan urusan orang yang bersangkutan untuk memilih bagaimana seseorang akan berperilaku.
      Mengingat bahwa eksistensi isu LGBT yang tengah hangat diperbincangkan tersebut sebenarnya telah ada di Indonesia sejak dahulu, sejak munculnya tokoh-tokoh maupun beberapa film yang telah mengekspos dan memasukkan unsur-unsur dari hal tersebut maka pada saat itu, masyarakat Indonesia sebenarnya telah mengakui dan bahkan lebih terkesan mengacuhkan akan eksistensi dari hal tersebut. Lalu, isu tersebut muncul kembali ke publik dengan membawa nama LGBT dan menjadi persoalan rumit yang didebatkan masyarakat saat ini.
     Dari hal tersebut kemudian muncul pemikiran di dalam diskusi bahwa isu LGBT yang kembali muncul ke publik tersebut ialah dilatarbelakangi oleh oknum-oknum propaganda lewat televisi dimana media tersebut ialah media yang pada dewasa ini sangat signifikan pengaruhnya. Namun, di sisi lain kita sebagai masyarakat Indonesia yang cerdas, propaganda LGBT jangan disikapi dan dijustifikasi bahwa kelompok LGBT mayoritas ingin menyebarluaskan pengaruh negatif. Kaum LGBT dirasa muncul kembali ke publik karena lebih ingin dihargai, diperlakukan, dan diberi kesetaraan hak sebagai layaknya warga negara biasa. Mereka yang ingin disamaratakan dalam pelayanan publik serta merasa aman dan nyaman di ruang publik.
    Sedangkan apabila kita mempertanyakan apa saja faktor yang menyebabkan LGBT mampu berkembang di dalam masyarakat kita sendiri ialah tidak lain karena adanya faktor konstruksi sosial yang menyebabkan mereka berperilaku demikian, diantaranya yakni seperti pengalaman masa lalu yang pernah mendapatkan pelecehan seksual, pola asuh, dan kemudian adanya bullying baik secara verbal, non verbal, maupun psikis.
     Dewasa ini, kepedulian akan isu tersebut memang sangat diperlukan. Dengan tidak menutup mata dan telinga, kita mengakui bahwa LGBT memang terbukti keberadaannya di sekitar kita. Berfikir smart dalam menanggapi isu ini sangat diperlukan. Sebagai wujudnya, yakni kita dapat berfikir kritis serta perlunya peringatan dan bukan pelarangan akan eksistensi dari komunitas LGBT karena hal tersebut jelas tidak dapat dipungkiri dari kehidupan di sekitar kita.
    Sebagai solusinya, adanya isu LGBT tersebut diharapkan dapat ditekan dengan pemberian sex education baik dari ruang lingkup terkecil yakni keluarga maupun dari lingkungan, eksistensi dan peran pemerintah yang tegas juga sangat diperlukan, sikap dari masyarakat sekitar yang menerima dan memahami akan adanya realita ini juga sangat diharapkan, dan yang paling signifikan ialah kontrol sosial dari masyarakat, keterbukaan sikap, dan non diskriminasi terhadap kelompok LGBT. -mda

0 komentar:

Posting Komentar