Rabu, 10 Mei 2017

Diskusi Publik “Dibalik Lesunya Semangat Diskusi Mahasiswa”

       
     Selasa, 9 Mei 2017 pukul 16.00 WIB berlokasi di Taman Ki Hadjar Dewantara FIS UNY, Hima Sigara menyelenggarakan kegiatan Diskusi Publik yang mengusung tema “Dibalik Lesunya Semangat Diskusi Mahasiswa”. Diskusi ini dipantik oleh Triyo Handoko (Koordinator Litbang UKM Ekspresi UNY) dan Ahmad Agung Masykuri (Alumni UKMF Screen FIS UNY) serta dimoderatori oleh Ayu Naila Adibah (Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara FIS UNY). 
    Menurut Hasibuan (1985), Diskusi adalah visi dari dua atau lebih individu yang berinteraksi secara verbal dan dengan saling bertatap muka dengan tujuan atau target yang telah diberikan dengan cara pertukaran informasi atau mempertahankan (www.gurupendidikan.com/14-pengertian-diskusi-menurut-para-ahli-beserta-tujuan-dan-macamnya/ diakses pada 8 Mei 2017 pukul 22.30 WIB) Ruang diskusi yang diadakan dikampus-kampus akan memberi peluang bagi kita untuk saling berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman yang muaranya akan kembali untuk kepentingan kita berupa makin luasnya cakrawala kita memahami dunia. Kualitas masa depan pemimpin bangsa ditentukan oleh generasi sekarang yang memiliki tekad yang kuat kemauan keras untuk belajar dan berkembang dikampus maupun diluar kampus. Mahasiswa yang pandai diskusi, padai melihat peluang masa depan, dan berani meyampaikan kebenaran dengan santun didepan pemimpin yang berperlilaku tidak adil. Itu semua hasil dari proses diskusi, dengan digalangkannya forum diskusi di kampus dengan sendirinya akan hadir tunas-tunas bangsa yang pandai mengkaji sebuah masalah, dan menyiapkan sosok pemimpin masa depan yang mampu memberikan solusi kepada masyarakat yang sedang dilanda kebingungan. Tidka dapat dipungkiri bahwa dengan diskusilah kita dapat memperkaya pengetahuan yang berasal dari sudut pandang yang berbeda (Kajian Hari Sore. Menipisnya Budaya Diskusi di Kalangan Mahasiswa. 2011: STIA Banten di akses pada 8 Mei 2017 pukul 22.45 WIB)
      Dengan adanya fakta tentang betapa pentingnya diskusi dalam menunjang peran mahasiswa sebagai agen perubahan dan kontrol sosial tidak sekaligus menjadikan diskusi sebagai kegiatan yang disenangi. Fakta lain mengenai semangat berdiskusi mahasiswa yang kian menurun tidak dapat disangkal lagi. Banyak faktor yang disampaikan mengenai permasalahan tersebut dalam diskusi Hima Sigara kali ini. Triyo Handoko menyampaikan bahwasanya perkembangan pola pikir mahasiswa yang diintepretasikan melalui kegiatan diskusi tidak bisa dilepaskan dari peran penguasa. Perjalanan panjang Indonesia yang hingga saat ini mendapat diintervensi oleh peran mahasiswa, menimbulkan kekhawatiran akan tumbuhnya kekritisan mahasiswa yang bisa mengancam posisi pemangku kepentingan. Sedangkan disampaikan oleh Ahmad Agung bahwa setiap mahasiswa memiliki kebutuhannya masing-masing yang sekaligus mempengaruhi orientasi mereka untuk melakukan diskusi atau tidak. Selanjutnya ditambahkan oleh Sita Novalinda (mahasiswa IAN) bahwa tuntutan terhadap mahasiswa saat ini sudah tidak relevan dengan kebijakan yang diambil oleh para pemangku kepentingan. Kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga jadwal kuliah menjadi padat dan tugas yang menggunung dengan iming-iming bisa lulus cepat. Sehingga disitulah mahasiswa sewajarnya manusia mengalami titik jenuh, kegiatan di dalam kelas yang padat mengakibatkan mahasiswa lesu untuk mengikuti kegiatan diskusi di luar kelas.
    Jika kita mengenal tentang Trilogi Mahasiswa (Membaca, Menulis, dan Berdiskusi) maka harapannya adalah dengan membaca mahasiswa dapat memiliku kapasistas ilmu yang baik dan kemudian didiskusikan, lalu output dari diskusi tersebut yaitu berupa karya tulis. Sehingga disampaikan oleh Erza Kurnia (mahasiswa IAN) bahwa faktor yang memicu lesunya semangat berdiskusi mahasiswa adalah berawal dari menurunnya minat membaca dari mahasiswa itu sendiri. Sedangkan Ahmad Agung menyampaikan bahwa mahasiswa memiliki caranya tersendiri dalam berdiskusi, karena membaca tidak harus melalui buku, melihat tidak harus dengan mata, dan berdiskusi tidak selalu harus melalui forum-forum yang sifatnya resmi, seperti halnya aksi yang tidak melulu harus turun ke jalan. Dalam hal ini diskusi bisa dilaksanakan dalam bentuk dan waktu yang lebih fleksibel. Disisi lain, disampaikan oleh Triyo Handoko bahwa hanya dengan berdiskusi tidak serta merta dapat menyelesaikan masalah, apalagi tidak diskusi. Walaupun bisa saja diskusi dilaksanakan dengan cara yang fleksibel, namun tetap ada tuntutan bagi pelaksana diskusi untuk mencari pemecahan masalah bersama.
Hingga akhirnya secara garis besar latar belakang lesunya minat mahasiswa adalah sebagai berikut:
1. Kurang peka dan gelisah terhadap masalah yang ada
2. Kurangnya payung hukum dan perlindungan yang mengayomi kegiatan diskusi mahasiswa
3. Mahasiswa merasa bisa berpendapat tapi tidak ada saluran untuk mengimplementasikannya
4. Adanya paradigma yg salah mengenai diskusi mahasiswa
5. Diskusi mahasiawa dinilai tidak mampu berkontribusi aktif dalam pemecahan masalah yang ada
Dan solusi yang ditawarkan antara lain:
1. Menanamkan kepedulian dan kepekaan mahasiswa terhadap lingkungan sekitar
2. Memiliki keteguhan terhadap suatu sudut pandang yang dianggap benar (idealisme) sebagai seorang mahasiswa
3. Mencari masalah dari lini yang paling dekat dan mencoba menyelesaikannya
4. Tata cara,  sistem,  bahasan,  dan sudut pandang diskusi yang menarik
5. Usahakan diskusi itu melihat status quo dan realistis
6. keluar dari zona nyaman (jangan menjadi katak dalam tempurung), yaitu dengan mencari ruang lingkup diskusi yang lebih luas
     Bagaimanapun diskusi akan selalu menjadi kegiatan yang tidak bisa dilepaskan dalam ranah mahasiswa. Dalam perjalanannya terdapat banyak faktor yang dinilai menjadi akar masalah dan solusi yang coba ditawarkan dari lesunya semangat diskusi mahasiswa dewasa ini. Menanamkan kepekaan dan kegelisahan mulai dari lingkup terkecil dianggap sebagai solusi yang paling efektif dan merupakan tanggung jawab dari banyak pihak, terutama dan mahasiswa itu sendiri dan para pemangku kepentingan. Berdiskusi merupakan cermin, kualitas sumber bacaan dapat tercermin melalui berdiskusi, dan kualitas berdiskusi dapat dicerminkan melalui karya yang dihasilkan. Orang yang benar-benar berdiskusi akan menghasilkan karya yang nyata dan beretika, bukan hanya berdasarkan prasangka dan awang-awang semata. 
#salam kritis, solutif untuk negeri
#aksi nyata

0 komentar:

Posting Komentar